IYA....SAYA MEMANG SALAH 04 Feb. 12 Sabtu
Nats: Lukas 18:13
Bicara atau mengatakan bahwa “iya...saya memang salah...” mungkin bagi sebagian kita agak sulit, atau bagi sebagian kita mudah mengatakannya.
Suatu ketika, keluarga saya diperhadapkan dalam sebuah situasi yang menurut kami cukup memberi pintu masuk dalam perasaan tersinggung. Yaitu saat hari latihan, sebuah pesan masuk dalam hp (handphone) istri saya yang menjelaskan agar supaya dia berjaga-jaga saat latihan nanti untuk menggantikan posisi singer. Rupanya memang benar bahwa posisi singer tersebut tidak ada orang yang mengisi, karena beberapa anggota yang seharusnya bertugas, tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.
Dan karena sebuah alasan yang saya pikir tepat, itu sebabnya istri saya tidak menyanggupi untuk menggantikan posisi singer. Di sisi lain ketua komisi pujian dan penyembahan dalam gereja kami juga benar dalam memberi perintah dan sudah sewajarnya apabila beliau menggunakan kapasitasnya sebagai pemimpin kami.
Nah...terkadang kita juga berada dalam posisi yang sama. Yang menjadi hal yang penting saat menghadapi situasi ini adalah bagaimana kita mengatakan “iya...saya memang salah” bukan berarti kita tidak mampu, atau bukan juga berarti bahwa kita kalah, ataupun memberontak, melainkan bahwa dengan mengatakan hal itu, menunjukkan sikap besar hati kita, sikap yang menunjukkan kita bisa merendahkan hati kita.
Sebuah cerita dalam Firman Tuhan menggambarkan keadaan bagaimana seharusnya menyadari diri sendiri dan merendahkan diri.
Lukas 18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Inti nya memang berbeda dari sebuah contoh yang saya maksudkan tetapi sebuah teladan dapat kita ambil dari peristiwa ini. Yaitu bagaimana seorang pemungut cukai mengambil sikap besar hati saat ia difitnah, dicaci maki, di ejek dan direndahkan oleh orang farisi. Tetapi ia kemudian mengambil keputusan “iya...saya orang berdosa..”kemudian ia datang kepada Tuhan dan meminta ampun.
Sobat...saat kita mengatakan kesalahan kita, dan keteledoran kita, cukup sulit memang, bagi sebagian orang, tetapi ingat, bahwa mengatakan kesalahan kita bukan berarti kita kalah atau kita rendah, atau kita tidak berguna didepan mata orang yang menyalahkan kita, melainkan saat kita mengatakan bahwa “iya...saya memang salah...” itu adalah sebuah sikap yang mau berbesar hati dan merendah dengan tujuan agar kita menjadi lebih baik lagi. Tuhan memberkati (sthd)
TUHAN BERI KAMI KEMAMPUAN UNTUK MENERIMA APAPUN BENTUKNYA PROSES DALAM KEHIDUPAN KAMI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar